Tampilkan postingan dengan label Potensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Potensi. Tampilkan semua postingan

14 Desember 2012

Kerajinan Batu Putih



Usaha yang didirikan pada tahun 2003 ini khusus menyediakan candle holder berbahan dasar batuan. Batuan yang digunakan antara lain batu alam putih, batu breksi, dan batu apung. Adalah Bapak Mukijo yang awalnya mendirikan usaha ini. Berawal sebagai buruh gergaji batu, ia banyak mendapat pelajaran bagaimana memproses batuan menjadi barang bernilai jual. Akhirnya ia mengembangkan usahanya untuk banyak memproduksi beragam candle holderini. Selain mempunyai workshop di rumah, ia menggelar produk-produknya di Pasar Seni Gabusan, Bantul. Untuk memproduksi batuan tersebut, Bapak Mukijo selain dibantu istrinya, Yati, juga dibantu oleh beberapa teman pekerja.


Karena masih usaha kecil, banyak pekerjaan yang masih dilakukan Bapak Mukijo sendiri. Ia harus sering bolak-balik Bantul-Wonosari untuk urusan batu alam putih dan Bantul-Prambanan untuk urusan batu breksinya. Bahan dasar batuan tersebut lalu diolah dengan cara di cetak dan di ukir. Kemudian dihias dengan aplikasi dari bahan aluminium dan kayu, serta campuran dari beberapa macam batuan tersebut. Candle holder yang ditawarkan memang tidak mengalami proses pengecatan, jadi memang hampir semua berwarna putih, warna batuan aslinya. Meski begitu dengan ragam yang bervariasi, candle holder yang ditawarkan cukup memikat.

Kendala yang umum dialami barang-barang berbahan dasar batuan seperti ini adalah datangnya debu. Untuk itu kita harus rajin membersihkannya, jika tidak, barang akan berwarna kusam. Membersihkannya cukup dengan dibersihkan dengan sulak, disemprot angin serta dicuci dengan air biasa.

Meskipun lebih dikenal sebagai produsen candle holder, namun Zulfitra Stone Craft ini juga memproduksi barner aromatic, patung-patung, water fulls, dan lampion. Untuk bisa mendaptkan beragam barang tersebut Anda bisa langsung datang ke workshop Zulfitra Stone Craft di Dukuh Rt. 15, Krandohan, Pendowoharjo, Sewon, Bantul

11 Desember 2012

Nata De Seaweed




Di pedukuhan krandohan terdapat berbagai macam industri rumah tangga , salah satunya nata de seaweed CV Minalaras, nata de seaweed CV Minalaras sendiri merupakan salah satu usaha rumahan yang cukup lama dan masih bertahan hingga saat ini,usaha rumahan yang di dirikan 2007-2008 berawalkan keingintahuan untuk membuat pengolahan rumput laut karena masih jarang ditemui pengolahan rumput laut di jogja. untuk segi pemasaran nata de seaweed ini melakukan di tujukan ke pusat oleh -oleh daerah Yogyakarta. Produksi nata de seaweed setiap minggu sangat sedikit karena tidak ada orderan cuma memproduksi untuk ditujukan kepusat oleh-oleh saja .namun ketika banyaknya orderan produksinya meningkat berkali-kali lipat dalam per minggunya,kebanyakan ramai atau tidaknya pesanan juga di pengaruhi cuaca hujan atau cerah karena kalau hujan rumput lautnya tidak dapat dijemur.



Dari segi tenaga kerja Nata De Seaweed Cv.Mina Laras memanfaatkan tenaga warga sekitar tempat produksi untuk membantu produksi,namun pemasarannya dilakukan sendiri di oleh Mas Fakhrudin Al Rozi sebagai pemilik usaha Nata De Seaweed Cv Minalaras itu sendiri. Mas Fakhrudin Al Rozi mengembangkan usaha rumput laut tidak hanya nata de seaweed tetapi memberi inovasi lain yang sekarang menyediakan berbagai macam pilihan, yaitu:


  • Nata De Seaweed 
  • Kripik Rumput Laut 
  • Crips Rumput Laut 
  • Ikan Crispy 


Contact person : Fakhrudin Al Rozi (08174121831) 

-Ngrukem RT.18 Krandohan, Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

26 November 2012

Wilayah


      Wilayah dusun krandohan berluaskan 41 hektar . sektor sawah di dusun krandohan sekitar 20 hektar yang digunakan untuk menanam . Di dusun krandohan juga ada yang membuat untuk memelihara ikan untuk menjualnya. Mayoritas penduduk dusun krandohan berkerja sebagai petani.

Wilayah dari dusun krandohan terdiri dari 4 kampung  :
  • Warna Biru : Kampung Juron
  • Warna Hijau : Kampung Ngrukem
  • Warna Pink : Kampung Krandohan
  • Warna Kuning : kampung Dukuh



Gejog Lesung

   
  Seni berkembang seiring dengan dinamika masyarakatnya. Pencerminan daerah geografi melalui bentuk sebuah kesenian merupakan gambaran bahwa suatu bentuk kesenian tidak lepas dari unsur kehidupan dan alam yang melingkupi masyarakatnya. Dalam masyarakat agraris yang terdapat di dusun Krandohan Pendowoharjo Sewon Bantul menjadikan masyarakatnya dekat dengan sebuah bentuk kesenian yang bercirikan agraris yaitu Seni Gejog Lesung. Kesenian ini berkembang dengan baik di daerah tersebut karena masyarakat masih menempatkan Gejog Lesung sebagai bentuk pertunjukan hiburan. Seiring dengan perkembangan jaman yang dinamis, maka Gejog Lesung mengalami dekadensi dalan1 kontinuitasnya. Di satu sisi generasi ibu-ibu yang sudah semakin tua umumya sebagai pendukung utama seni Gejog Lesung merasa tidak dapat energik lagi seperti sebelumnya dalam penampilannya. Disisi yang lain generasi muda enggan untuk belajar dan terlibat dalam kegiatan seni Gejog Lesung. Permasalahan seperti ini kerap terjadi pada eksistensi suatu seni pertunjukan tradisional. Feminisme yang terdapat dalam pertunjukan Gejog Lesung dengan berperannya ibu-ibu, menjadikan seni tersebut mempunyai spesiflkasi tersendiri, mengingat kesibukan yang dimiliki oleh sebagian besar ibu-ibu itu baik sebagai ibu rumah tangga, ataupun pekerja lainnya masih menyempatkan diri untuk terlibat dalam kegiatan tersebut. Pandangan yang merendahkan dari potensi yang dimiliki oleh seorang wanita dapat dielakkan dengan melihat kegiatan yang dilakukan oleh ibu-ibu ini. Secara Etnomusikologis suatu bentuk kesenian dapat dipandang suatu pengejawantahan dalam system yang terdapat pada suatu masyarakat. Melalui seni Gejog Lesung dapat dilihat dari pola suatu bentuk masyarakat dalam mengapresiasikan keseniannya.